Belajar Kognitif, Afektif dan Psikomotorik Menurut Gegne

A. Pengertian Belajar

Sebelum kita melangkah lebih jauh tentang bagaimana konsep belajar yang di kemukankan oleh Gegne, ada baik kalau kita memahami terlebih dahulu makna dari belajar itu sendiri. Pengertian belajar sangat umum dan luas, siapa pun dan kapan pun seseorang pasti mengalami proses belajar. Belajar dari pengalaman seseorang akan dapat mengmbangkan dan merubah setiap sikap, perilaku dan pola piker mereka, dan dari belajar mereka setiap orang menjadi tahu, ia akan mampu membentuk suatu pengetahuan, nilain-nilai dan pengertian dari sesuatu yang dipelajarinya.

Belajar, disa didefinisikan sebagai “berubahnya kemampuan seseorang untuk melihat, berfikir, merasakan, mengerjakan sesuatu, melalui berbagai pengalaman-pengalaman yang sebagiannya bersifat pereptual, sebagiannya bersifat intelektual, emosional maupun motorik”.[1]

Good dan bropy dalam bukunya Educational Psychology: A Realistic Approach mengemukakan arti belajar dengan kata-kata yang singkat, yaitu Learning is the development of new association as a result of esperience. Beranjak dari definisi yang dikemukakannya itu selanjutnya ia menjelaskan bahwa belajar itu suatu proses yang benar-benar bersifat internal (a purely internal event). Belajar merupakan suatu proses yang tidak dapat dilihat dengan nyata; prose situ terjadi di dalam diri sesorang yang sedang mengalami belajar. Jadi yang dimaksud dengan belajar meneurut Good dan Brophy bukan tingkah laku yang nampak, tetapi terutama adalah prosesnya yang terjadi secara internal di dalam diri individu dalam usahanya memperoleh hubungan-hubungan baru (new association). Hubungan-hubungan baru itu dapat berupa; antara perangsang-perangsang, antara reaksi-reaksi, atau antara perangsang dan reaksi.[2]

Belajar dikatakan sebagai suatu proses dari tidak tahu menjadi tahu, dari tidak bias menjadi bias, dan hasil dari belajar yang dituju bias jadi karena memang lahirnya kemampuan baru atau pun pengembangan dan penyempurnaan dari kemampuan yang sudah dimiliki.

Gegne sendiri dalam bukunya The Conditions Of Learning (19770 menyatakan bahwa; “Belajar terjadi apabila suatu situasi stimulus bersama dengan isi ingatan mempengaruhi siswa sedemikian rupa sehingga perbuatannya (performance-nya) berubah dari waktu sebelum ia mengalami situasi itu ke waktu sesudah ia mengalami situasi tadi.”[3]

B. Tipe Belajar Menurut Gegne

Robert M. Gagne, secara hirarkis / sistematuk membedakan jenis-jenis belajar, yang disebutnya sebagai “tipe-tipe balajar”, dalam delapan ipe, yaitu:

1. Belajar tipe I, yang disebut sebagai “belajar signal’, atau conditioning ala Paplov. Unsure pokoknya adalah “refleks bersyarat” atau conditioning response. Respon bersayarat terjadi apabila telah terjadi asosiasi (hubungan) antara stimulus dengan stimulus lain (sebagai sinyal bagi stimulus asli tersebut): yang kemudian dengan stimulus lain tersebut menimbulkan reaksi yang sama seperti yang terjadi pada stimulus asal.[4]

2. Belajar dengan peneguh atau penguat (conditioning ala skinner); atau belajar tipe II. Dalam pola belajar ini, dibentuk hubungan antara suatu perangsang dengan suatu reaksi, berdasarkan efek yang mengikuti pemberian reaksi tertentu. Belajar disini berarti belajar membuat suatu gerakan, demi memperoleh suatu yang memberikan kepuasan. Dan gerakan itu melibatkan kejasmanian, oleh karenanya disebut “gerakan motorik” yang dilakukan dengan kehendak sendiri. Misalnya seorang anak kecil belajar untuk memegang botol minuman susu, dan dengan demikian memberikan makan kepada dirinya sendiri, sehingga merasa kenyang.[5]

3. belajar membentuk rangkaian gerak (chaining motorik) atau belajar tipe III. Dalam hal ini, yang dimaksudkan adalah belajar membuat suatu seri gerakan-gerakan motorik, sehingga akhirnya terbentuk suatu rangkaian gerakan dalam urutan tertentu. Pada dasarnya sama dengan belajar tipe II, yaitu dilakukan aktivitas jasmani dengan kehendak sendiri, tetapi rangkaian gerakan jasmani dengan kehendak aktivitas bergerak dan bersifat lebih komfleks. Misalnya, seorang anak belajar membuka pintu depan rumah dari luar, dengan menggunakan sebuah anak kunci, dalam hal ini ada sejumlah gerakan yang harus diperbuat dalam urutan tertentu, yaitu: memgang anak kunci dalam posisi yang tepat, memasukkannya kedalam lubang kunci, memutarnya, menekan pegangan pintu kebawah, mendorong pintu hingga terbuka, dan akhirnya mengambil anak kunci dari lubang kunci.[6]

4. Belajar tip ke IV, disebut juga sebagai belajr “asosiasi verbal”, yaitu belajar dengan menghubungkan suatu kata dengan suatu obyek yang berupa benda, orang atau kejadian, dan merangkaikan sejumlah kata dalam urutan yang tepat. Yang pertama, berarti memberikan suatu nama atau cap verbal pada suatu obyek misalnya “kursi” bagi benda berkaki empat yang mempunyai alas tempat duduk, dan menempatkan badan diats kursi itu sebagai “duduk”, dan sebagainya. Yang kedua, berarti menempatkan sejumlah kata yang satu sesudah yang lain dalam urutan tertentu; misalnya anak menghafal lagu Indonesia Raya. Belajar tipe ini berarti juga memberikan reaksi verbal pada suatu stimulus; misalnya; bahasa inggrisnya meja “table”; nomor rumah: 245; ini gambar apa: “boneka”, dan sebagainya.[7]

5. belajr tip eke V, disebut belajr diskriminasi yang jamak (multiple discrimination); yang diharapkan bias memberikan reaksi yang berbeda pada stimulus-stimulus yang mempunyai kesamaan/kemiripan. Hasil belajar ini ialah kemampuan utnuk membeda-bedakan antarea obyek-obyek yag terdapat dalam lingkungan fisik yang berbeda. Kemampauan ini berdasarkan hasil pengamatan, yaitu fungsi untuk mengenal dunia real, yang menghasilkan persepsi. Dan melalui persepsi inilah dikenal cirri-ciri fisik dari obyek-obyek, misalnya warnanya, bentuknya, ukurannya, dan sebagainya.[8]

6. belajar tip eke VI, adalah belajar konsep (concept learning); kemampuan yang diharapkan dari tipe belajar ini adalah bias menempatkan obyek-obyek dalam kelompok tertentu {klasifikasi} dan bentuk itu diperlukan pembentukan konsep-konsep yang tepat. Konsep adalah suatu satuan arti yang mewakili sejumlah obyek yang mempunyai cirri-ciri sama. Misalnya; manusia, ikan paus, kera, anjing, adalah mahluk menyusui; pensil, spidol, pulpen, ballpoint, adalh alat-alat tulis. Untuk dapat membentuk konsep yang tepat, harus didahului kemampuan mengadakan diskriminasi perceptual.[9]

7. Tipe belajar ke VII, disebut sebagai belajar kaidah (rule learning), yang berusaha menghubungkan beberapa konsep, atau relasi tetap diantara konsep-konsep itu, biasanya dituangkan dalam bentuk suatu kalimat. Misalnya: kalimat “air dimasukkan dlam ruang yang bersuhu kurang dari nol derajat celcius, akan membeku”. Kalimat tersebut mengungkap relasi tetap antara air yang masih berbentuk cairan dengan air yang berbentuk padat, setelah suhu air diturunkan samapai dibawah nol derajat celcius. Dalam hal ini beberapa konsep dihubungkan satu sama lain ampai tebentuk suatu pemahaman baru, yang disebut dengan kaidah.[10]

8. Tipe belajar ke VIII, disebut belajar memeahkan problem (problem solving). Cara belajar ini menghasilkan suatu prinsip yang dapat dipergunakan dalam pemecahan suatu problem. Problem yang dihadapi akan dapat dipecahkan dengan menghubung-hubungkan beberapa kaidah sedemikian rupa, sehingga terbentuk suatu kaidah yang lebih tinggi {higher order rule}, dan ini kerap kali dilahirkan sebagai hasil dari berfikir, bila orang menghadapi suatu problem untuk dipecahkan.[11]

Dalam perkembangannya kemudian sistematika “Delapan Tipe Belajar” diatas kemudian diganti oleh Gagne dengn sistematika lain. Dengan demikian sistematika in tidak aktuallagii, namun tetap mempunyai nilai histories karena didalamnya terkandung dua keyakinan yang tetap dipegang oleh Gagne, yaitu bentuk/jenis belajar berjumlah lebih dari satu saja, dan hasil belajar yang satu menjadi landasan untuk hasil belajar yang lainnya.

C. Sistematika “Lima Jenis Belajar”

Sebagaimana penjelasan yang sudah dipaparkan diatas tadi, sistematika “lima jenis belajr” ini, merupakan bagian yang khusu untukmemperhatikan hasil belajar yang diperoleh. Hasil belajar ini merupakan suatu kemampauan internal (capability) yang telah menjadi milki pribadi sesorang dan memungkinkan orang itu melakukan sesuatu atau memberikan prestasi tertentu (performance). Sistematika ini mencakup semua hasil belajar yang dapat diperoleh; artinya gagne tidak menunjukkan hasil belajar atau kemampuan internal satu persatu, akan tetapi mengelompokkan setiap hasil belajar yang memilki cirri-ciri yang sama dalam satu kategori.

Sistematika “Lima Jenis Belajar” tidak disusun berdasarkan suatu urutan hirarkis, dimana jenis belajar yang satu menjadi landasan bagi jenis belajar yang lainnya. Kelima kategori hasil belajar yang dikemukan oleh Gagne adalah sebagai berikut:

1) Informasi verbal

2) Kemahiran intelektual

3) Pengaturan kegiatan kognitif

4) Keterampilan motorik

5) Sikap

(sistematika menurut R. Gagne)

Belajar di bidang kognitif

– Belajar di bidang sensorik-motorik

– Belajar di bidang dinamik-afektif

(sistematika menurut aspek-aspek kepribadian yanglazim digunakan dalam ilmu psikologi).

1. Informasi verbal (verbal information). Yang dimaksudkan ialah pengetahuan dimiliki seseorang dan dapat diungkapkan dalam bentuk bahasa, lisan dan tertulis. Pengetahuan itu diperoleh dari sumber yang menggunakan bahasa juga, lisan atau tertulis.[12]

Informasi verbal meliputi:

§ Cap verbal : kata yang dimilki seseorang untuk menunjuk pada obyek-obyek yang dihadapi, misalnya kata “kursi” untuk benda tertentu.

§ Data / Fakta : kenyataan yang diketahui, misalnya “Negara indoneia dilalui khatulistiwa”

2. Kemahiran intelektual (intelektual skill). Yang dimaskud ialah kemampuan untuk berhubugan dengan lingkungan hidup dan dirinya sendiri dalam bentuk suatu representasi, khususnya konep dan berbagai lambing / symbol (huruf, angka, kata, gambar). Misalnya, seseorang akan menempuh ujian mengemudi untuk memperoleh Surat Izin Mengemudi A. ujian itu, biasanya, terdiri atas dua bagian, yaitu teori dan praktek. Untuk menempuh ujian bagian praktek, orang itu harus turun ke jalan dan membuktikan kemampuannya membawa kendaraan mobil di tengah-tengah lalu lintas. Namun, untuk menempuh ujian bagian teori, orang itu tidak mutlak perlu duharuskan turun kejalan; cukuplah petugas kepolisisan memperlihatkan sebuah peta atau denah yang menggambarkan suatu situsi lalu lintas tertentu dan mengjaukan berbagai pertanyaan. Dengan demikian, pengetahuan calon pemegang Surat Izin Mengemudi dapat diuji melalui representasi visual dari situasi lalu lintas yang dihadapai di jalan.[13]

Kategori kemahiran intelektual terbagilagi atas epat sub kemampuan yang durutkan secara hirarkis. Adapun empat sub kemampuan adalah sebagai berikut:

a) Diskriminasi jamak (multiple discrimination). Berdasarkan pengamatan yang cermat terhadap obyek, orang mampu membedakan antara obyek yang satu dengan yang lain. Selama mengamati, bentuk berbegai persep, yaitu hasil mental dari pengamatan, yang di dalamnya tanggapan sebagai representasi berperaga mungkin sekali memegang peranan.[14]

b) Konsep (consept). Konsep atau pengertian ialah satuan arti yang mewakili sejumlah obyek yang mempunyai cirri-ciri sama. Orang yang memilki konsep, mampu mengadakan abtraksi terhadap segala obyek yang dihadapi, sehingga obyek ditempatkan dlam golongan tertentu (klasifikasi). Suatu obyek dihadrikan dalam kesadaran orang, dalam bentuk suatu representasi mental tak berperaga. Konsep sendiri pun dapat dilambangkan dalam bentuk suatu kata yang mewakili konsep itu; jadi lambing mental (konsep) dituangkan dalam bentuk suatu kata (lambang bahasa).[15]

c) Kaidah (Rule). Bila dua konsep aau lebih dihubungkan satu sama lain, terbentuk suatu ketentuan yang merepresentasikan suatu keteraturan. Orang yang telah mempelajari suatu kaidah, mampu menghubungkan beberapa konsep. Misalnya seorang anak yang berkata “Benda yang bulat berguling di alas miring”, telah menguasai konsep “benda”, “bulat”, “alas”, “miring”, dan “berguling” dan menentukan adanya uatu relasi tetap antara kelima konsep itu. Seandainya anak iotu tidak menguasai tiga konsep dasar, maka dengan sendirinya, dia juga tidak menguasai kaidah “bend yang berguling”. Maka, memilki kaidah mengndaikan kemampuan menguasai konsep-konsep yang relevan, yang bersama-sama membentuk kaidah itu. Di sini namapak jelas apa yang dimaksud dengan urutan hirarkis, sebagaimana dikatakan oleh Gagne.[16]

d) Prinsip (Highorder rule). Dalam prinsip telah terjadi kombinasi dari beberapa kaidah, sehingga terbentuk suatu kaidah yang bertaraf lebih tinggi dan lebih kompleks. Kaidah semacam itu, disini, disebut “prinsip”. Berdasarkan prinsip yang di pegang, orang mampu memecahkan suatu problem dan kemudian menerapkan prinsip itu pada problem yang sejenis.[17]

3. Pengaturan kegiatan kognitif (cognitive strategy). Kemampuan ini merupakan suatu kemahiran yang berbeda sifat dengan kategori kemahiran intelektual yang dibahas sebelumnya; maka diberi nama tersendiri; supaya tidak dicampuradukkan dengan konsep dan kaidah. Orang yang mempunyai kemampuan ini, dpat menyalurkan dan mengarahkan aktivitas kognitifnya sendiri, khususnya bila sedang belajar dan berfikir. Ruang gerak pengaturan kegiatan kognitif adalah aktivitas mentalnya sendiri, sedangkan ruang gerak kemahiran intelektual ialah representasi dalam kesadaran terhadap lingkungan hidup dan diri sendiri. Pengaturan kegiatan kognitif mencakup penggunaan konsep dan kaidah yang telah dimiliki, terutama bila sedang menghadapi suatu problem. Orang yang mampu mengatur dan mengarahkan aktivitas mentalnya sendiri di bidang kogniti, akan jauh lebih efisien dan efektif dalam mempergunakan semua konsep dan kaidah yang pernah dipelajari, disbanding dengan orang yang tidak berkemampuan demikian. [18]

4. Keterampilan motorik (motor skill). Orang yang memilki suatu keterampilan motorik, maupun melakukan suatu rangkaian gerak-gerik jasmani dalam urutan tertentu, dengan mengadakan koordinasi antara gerak-gerik berbagai anggota badan secara terpadu. Ketrampilan semacam ini disebut “motorik”, karena otot, urat dan persendian terlibat secara langsung, sehingga keterampilan sungguh-sungguh berakar dalam kejasmanian. Cirri khas dari keterampilan motorik ialah otomatisme, yaitu rangkaina gerak-gerik berlangsung secara teratur dan berjalan dengan lancer dan supel, tanpa dibutuhkan banyak refleksi tentang apa yang harus dilakukan dan mengapa diikuti urutan gerak-gerik tertentu. Misalnya seorang sopir mobil sudah menguasai keterampilan mengendarai kendaraannya sedemikian rupa, sehingga konsentrasinya tidak seluruhnya termakan oleh penanganan peralatan mengendarai dan perhatiannya dapat dipusatkan pada arus lalu lintas di jalan.[19]

5. Sikap (attitude). Orang yang bersikap tertentu cenderung menerima atau menolak suatu obyek berdasarkan penilaian terhadap obyek itu, berguna / berharga baginya atau tidak. Bila obyek dinilai “naik untuk saya”, dia mempunyai sikap positif, bila obyek dinilai “jelek untuk saya”, dia mempunyai sikap negative. Misalnya siswa yang memandang belajar disekolah sebagai sesuatu yang sangat bermanfaat baginya, memilki sikap yang positif terhadap elajar di sekolah; dan sebaliknya kalau siswa memandang belajar disekolah sebagai sesuatu yang tidak berguna. “Sikap” dan “nilai” (value) kerap disamakan dmeskipun ada ahli psikologi yang memandang nilai sebagai “sikap social”, yaitu sikap masyarakat luas terhadap esuatu, seperti sikap hormat terhadap bendera nasional dan siakp menolak tindkan korupsi. Orang perorangan dapat mengambil oper sikap social itu dan menjadikannya sikap pribadi, atau menolaknya dan menentukan sikap sendiri.[20]


[1] Tadjab, M.A, “Ilmu Jiwa Pendidikan”, Karya Aditama, Surabaya, 1994, Hal. 46

[2] Ngalim Purwanto, “Psikologi Pendidikan”, Remaja Rosdakarya, Bandung 2004, Hal.85

[3] Ibid, Hal.84

[4] Tadjab, M.A, “Ilmu Jiwa Pendidikan”, Karya Aditama, Surabaya, 1994, Hal. 95

[5] Ibid, Hal, 96

[6] Ibid, hal, 97.

[7] Ibid, hal, 97

[8] Ibid, hal, 98

[9] Ibid, hal, 98

[10] Ibid, hal, 99

[11] Ibid, hal, 99

[12] Wingkel, W.S, “Psikologi Pengajaran”, Media Abadi,Yogyakarta, 2007, Hal. 111

[13] Ibid, Hal. 112

[14] Ibid, Hal. 112

[15] Konsep dibagi menjadi dua; konsep konkrit dan konsep yang didefinisikan. Konsep konkrit adalah pengertian yang menunjukkan pada aneka obyek dalam lingkungan fisik. Sedangkan konsep yang didefinisikan adalah konsep yang mewakili realitas hidup, tetapi tidak langsung menunjuk pada realitas dalam lingkungan hidup fisik, karena realitas itu tidak berbadan. Ibid, Hal. 113

[16] Ibid, Hal. 114

[17] Ibid, Hal. 115

[18] Berbagai siasat untuk mengatur kegiatan berpikir dan kegiatan belajar sendiri oleh Gagne disebut “cognitive strategy”. Ibid, Hal. 115

[19] Ibid, Hal. 117

[20] Ibid, Hal. 117-118

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s