DI DINDING FACEBOOK

Di dinding-dinding hatimu

ku tulis sebait kisah tentang perasaanku

Biar semua orang tahu,

bahwa di beranda ini ada seseorang

yang sedang merindukanmu

17 Desember 2009

GANGGUAN SUASANA HATI (MOOD)

Gangguan hati (mood disorder) disebut juga gangguan afektif. Pengertian mood atau suasana hati mengacu pada emosi yang berlaman lama mencakup peranana murung maupun kegembiraan. Disebut gangguan mood karena terjadi ketidaknormalan dalam suasana hati yaitu berupa kemurungan hebat (depresi) atau kegairahan atau kegembiraan yang abnormal. DSM IV membedakan gangguan suasana hati ada dua, yaitu unipolar (satu kutub) dan bipolar (dua kutub).

A. Gangguan unipolar

Gangguan unipolar terdiri dari gangguan depresi utama (Major Depressive Disorder) dan Gangguan Dysthylania.

Ciri yang menonjol dari gangguan Depresi Utama adalah suasana hati yang murung. Penderita mengalami gejala yang disebut “depressive triad” yaitu mempunyai pandangan yang buruk tentang diri sendiri. Diri sendiri dipandang tidak berharga, pengalaman sehari-hari dan interaksi sosial dianggap menyebalkan dan masa depan dipandang dengan pesimistis. Penderita merasa putus asa, tidak ada semangat dan apatis.

Dalam DSM IV dikemukakan paling sedikit harus ada 5 gejala atau lebih dan berlangsung minimal 2 minggu untuk memenuhi kriteria Gangguan Depresi Utama yaitu;

  1. Suasana hati murung sepanjang hari sebagaimana dilaporkan oleh penderita (merasa sedih atau hampa) atau dari observasi orang lain (terlihat menangis).
  2. Menurunnya minat dan kesenangan pada semua aktivitas secara mencolok.
  3. Menurunnya atau bertambahnya berat badan secara mencolok (lebih dari 5 persen dari berat badan dalam sebulan; berkurangnya atau bertambahnya selera makan).
  4. Mengalami gangguan tidur: insomnia (tidak bisa tidur) atau hipersomnia (terlalu banyak tidur).
  5. Agitasi atau meningkatnya psikomotor (misalnya tidak bisa duduk dengan tenang); retardasi atau melambatnya psikomotor (misalnya gerakan tubuh yang lambat).
  6. Merasa kelelahan atau kehilangan tenaga.
  7. Merasa tidak berharga atau merasa bersalah.
  8. Menurunnya kemampuan untuk berfikir, konsentrasi dan mengambil keputusan.
  9. Sering muncul pikiran ingin mati atau bunuh diri.

Penting untuk mengenali perbedaan antara depresi klinis dengan sussana hati berkabung, misalnya karena kematian orang yang sangat dekat. DSM IV menganjurkan bahwa diagnosa depresi utama diberikan jika kematian pasangan lebih dari dua bulan dan penderita masih menunjukkan gejala depresi seperti kriteria diatas. Disamping kriteria disamping kategori depresi utama, juga dikenal kategori depresi pertengahan atau Dysthimia yang berada diantara depresi utama dan suasana hati normal.

Gangguan depresi merupakan gangguan suasana hati yang serius. Gangguan ini lebih banyak ditemuui pada wanita daripada pria. Menurut penelitian salah satu alasannya adalah bahwa pria lebih banyak melakukan kegiatan yang mampu mengalihkannya dari depresi. Sebaliknya wanita mempunyai keterbatasan untuk melakukan berbagai aktivitas yang mampu mengalihkan perhatian dari depresi.

Depresi bisa juga terjadi pada anak dan remaja. Pada remaja depresi biasa- nya berhubungan dengan kegelisahan, tingkah laku negativistik dan aktivitas antisosial. Depresi pada orang lanjut usia biasanya disebabkan oleh kematian pasangan. Beda dengan kehilangan pada orang dewasa, kehilangan pada usia tua biasanya tidak tergantikan.

Depresi berpengaruh kuat terhadap kehidupan seseorang. Penderita ada yang mengatasinya dengan penyalahgunaan obat-obatan seperti alkohol.

Menurut penelitian, proses biokomia dalam otak berperan dalam per- kembangan gangguan depresi. Zat yang penting adalah amine biogenik yang bertindak sebagai neurotransmitter yaitu mentransmisikan impuls dari neuron satu ke neuron lainnya. Depresi berhubungan dengan berkurangnya catecholamin di otak.

Walaupun faktor biologis berpengaruh, faktor psikososial misalnya kejadian kehidupan yang menimbulkan stres merupakan faktor penting dalam berkembang- nya gangguan suasana hati.

B. Gangguan Bipolar

Gangguan bipolar terdiri dari gangguan Manic-Depresiv dan Gangguan Cyclotymia. Penderita bipolar yaitu Manic-Depresiv mengalami kegairahan yang ekstrem yang disebut episode mania bergantian dengan depresi hebat sebingga membentuk siklus emosi yang tidak bisa diramalkan (ibarat naik roller-coaster). Beda dengan gangguan unipolar diatas yaitu penderita mengalami depresi serius tanpa ada pergantian ke suasana hati kegairahan mania.

DSM IV memberikan kriteria episode mania sebagai adanya masa kegairah- an yang berlangsung lama yang terlihat dari 3 atau lebih gejala berikut:

  1. Menurunnya kebutuhan untuk tidur, misalnya merasa sudah beristirahat setelah tidur 3 jam saja.
  2. Lebih banyak berbicara dari biasanya.
  3. Ide yang meloncat-loncat atau pikiran berkejaran.
  4. Perhatian mudah beralih ke hal lain.
  5. Peningkatan aktivitas dalam bidang sosial, pekerjaan, sekolah atau seksual.
  6. Keterlibatan yang berlebihan dalam aktivitas yang menyenangkan namun berakibat buruk misalnya berfoya-foya, melakukan investasi bisnis yang merugikan.

Bentuk gangguan suasana hati bipolar yang lebih ringan yang tidak cukup hebat untuk dimasukkan ke dalam episode mania disebut hipomania (berbeda dalam durasi yaitu lebih pendek dan intensivitasnya yaitu lebih ringan). Pada hipomania, perubahan suasana hati tampak jelas tetapi tidak terlalu hebat seperti dalam mania.

Sedangkan Cyclothymia meruapakn jenis gangguan suasana hati bipolar yang lebih ringan. Penderita cyclothymia mengalami hipomania dan depresi.

Disebutkan diatas bahwa biokimia dalam otak berperan dalam berkembangnya gangguan depresi. Begitu juga pada mania. Diakatakan bahwa mania berhubungan dengan kelebihan catecholamin di otak.

DAFTAR PUSTAKA

  • Supratinya,A. 1995. Mengenal Perilaku Abnormal.Yogyakarta: Kanisius.
  • LAB/UPF Ilmu Kedokteran Jiwa. 1994. Pedoman Diagnosis Dan Terapi. Surabaya: Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga dan RSUD Dr. Soetomo.
  • Panggabean, L. (2003). Pengembangan Kesehatan Perkotaan ditinjau dari Aspek Psikososial. (makalah). Direktorat Kesehatan Jiwa Masyarakat DepKes. Rs. Tidak dipublikasikan

Fitrah Qalbu, Akal, Dan Nafsu

Fitrah adalah potensi-potensi tertentu yang ada pada diri manusia yang telah dibawanya semenjak lahir, dalam kaitannya dengan tugas manusia sebagai khalifah Allah untuk menciptakan kemakmuran dan kebahagiaan dimuka bumi ini. Fitrah merupakan naluri dasar yang dijadikan oleh Allah pada diri setiap manusia. Fitrah disini adalah sisi-sisi universal yang terdapat pada manusia dan mendasari sifat dan kecenderungan hakiki manusia dalam menerima agama dan penyembahan kepada Tuhan.

Jika kita perhatikan di dalam Al Qur’an, Allah menjelaskan tentang fitrah Allah yang selalu berada dalam kondisi tetap (tidak berubah). Dan fitrah manusia ternyata selalu selaras dengan fitrah Allah.

Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. (Ar Ruum:30)

Sesungguhnya dalam segala hal, fitrah manusia itu selalu selaras dengan fitrah Allah. Hanya karena anugerah Allah yang berupa nafsu dan akal, maka manusia harus berusaha untuk selalu menyelaraskan fitrahnya tersebut dengan fitrah Allah. Coba diperhatikan anak bayi, begitu dilahirkan sang anak bayi mempunyai fitrah yang senantiasa selaras dengan fitrah Allah. Tetapi begitu mulai menjadi besar, akhil baligh hingga dewasa, nafsu dan akalnya yang ternyata ikut berkembang, menjadi lebih banyak dominannya dibandingkan fitrah dirinya

Sesungguhnya nafsu dan akal tersebut pun berjalan sesuai dengan fitrahnya nafsu ataupun fitrahnya akal. Apakah fitrahnya nafsu itu? Fitrahnya, ya kalau tidak menerima atau melakukan kebaikan (taqwa), ya sebaliknya yaitu menerima atau melakukan kejahatan (fujur). Apakah fithranya akal itu? Fitrahnya akal ya senantiasa berpikir. Akal itu tidak akan pernah berhenti untuk berpikir.

Jikalau kemudian dikenal ada istilah Zero Mind Process (proses meng-NOL-kan berpikir), sebenarnya itu berpikir juga. Berpikir supaya tidak berpikir. Semua adalah fitrahnya bagi masing-masing anugerah Allah tadi, yaitu fitrahnya nafsu ataupun akal.

Nafsu adalah fitrah manusia yang bersifat netral, Allah berfirman:

Demi jiwa serta penyempurnaan (ciptaan)-nya, Allah mengilhamkan pada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya. (QS as-Syams [91]: 7-10).

Artinya, nafsu itu sendiri pada dasarnya fitrah yang bisa baik dan buruk, atau taat dan maksiat. Ia akan menjadi baik dengan amal salih dan menjadi buruk dengan perbuatan tercela. Karena itu, nafsu bisa membuat orang berpikir, mengidentifikasi, tenang, gelisah, lapar, dahaga, dengki, tamak, ridha dan qanâ‘ah; serta pikiran-pikiran dan perasaan-perasaan lain.

Fenomena nafsu di dalam diri manusia memang merupakan fenomena fitrah yang melekat pada makhluk hidup, sebagaimana hewan. Nafsu itu sendiri sebagai fitrah makhluk hidup, dalam hal ini manusia mempunyai potensi baik dan buruk. Karena itu, nafsu harus dibentuk dan dibimbing agar tetap menjadi baik dan benar.

Dengan demikian, bisa dijelaskan bahwa nafsu merupakan fitrah yang diberikan oleh Allah kepada manusia; di dalamnya ada potensi baik dan buruk, serta benar dan salah. Hal yang sama juga terjadi pada akal. Hanya saja, baik nafsu maupun akal, tidak bisa dengan sendirinya melahirkan nafsiyyah dan ‘aqliyyah yang benar sebut saja nafsiyyah dan ‘aqliyyah Islam kecuali melalui proses dan mekanisme tertentu. Melalui proses dan mekanisme tertentu inilah, nafsiyyah dan ‘aqliyyah tersebut lahir, masing-masing dari nafsu dan akal yang fitri itu. Adapun adanya proses dan mekanisme tertentu itu merupakan hasil ikhtiar manusia, bukan ada dengan sendirinya. Di sinilah, ikhtiar manusia untuk mengintegrasikan dorongan naluri dan kebutuhan jasmaninya dengan konsepsi (mafahim) tertentu itulah yang akhirnya paling menentukan corak nafsiyyah-nya.

Dengan demikian sebenarnya qalbu, nafsu ataupun akal itu merupakan fitrah yang yang sudah ada dalam diri manusia. Adapaun penilaian nantinya tergantung bagaimana proses yang terjadi.

Belajar Kognitif, Afektif dan Psikomotorik Menurut Gegne

A. Pengertian Belajar

Sebelum kita melangkah lebih jauh tentang bagaimana konsep belajar yang di kemukankan oleh Gegne, ada baik kalau kita memahami terlebih dahulu makna dari belajar itu sendiri. Pengertian belajar sangat umum dan luas, siapa pun dan kapan pun seseorang pasti mengalami proses belajar. Belajar dari pengalaman seseorang akan dapat mengmbangkan dan merubah setiap sikap, perilaku dan pola piker mereka, dan dari belajar mereka setiap orang menjadi tahu, ia akan mampu membentuk suatu pengetahuan, nilain-nilai dan pengertian dari sesuatu yang dipelajarinya.

Belajar, disa didefinisikan sebagai “berubahnya kemampuan seseorang untuk melihat, berfikir, merasakan, mengerjakan sesuatu, melalui berbagai pengalaman-pengalaman yang sebagiannya bersifat pereptual, sebagiannya bersifat intelektual, emosional maupun motorik”.[1]

Good dan bropy dalam bukunya Educational Psychology: A Realistic Approach mengemukakan arti belajar dengan kata-kata yang singkat, yaitu Learning is the development of new association as a result of esperience. Beranjak dari definisi yang dikemukakannya itu selanjutnya ia menjelaskan bahwa belajar itu suatu proses yang benar-benar bersifat internal (a purely internal event). Belajar merupakan suatu proses yang tidak dapat dilihat dengan nyata; prose situ terjadi di dalam diri sesorang yang sedang mengalami belajar. Jadi yang dimaksud dengan belajar meneurut Good dan Brophy bukan tingkah laku yang nampak, tetapi terutama adalah prosesnya yang terjadi secara internal di dalam diri individu dalam usahanya memperoleh hubungan-hubungan baru (new association). Hubungan-hubungan baru itu dapat berupa; antara perangsang-perangsang, antara reaksi-reaksi, atau antara perangsang dan reaksi.[2]

Belajar dikatakan sebagai suatu proses dari tidak tahu menjadi tahu, dari tidak bias menjadi bias, dan hasil dari belajar yang dituju bias jadi karena memang lahirnya kemampuan baru atau pun pengembangan dan penyempurnaan dari kemampuan yang sudah dimiliki.

Gegne sendiri dalam bukunya The Conditions Of Learning (19770 menyatakan bahwa; “Belajar terjadi apabila suatu situasi stimulus bersama dengan isi ingatan mempengaruhi siswa sedemikian rupa sehingga perbuatannya (performance-nya) berubah dari waktu sebelum ia mengalami situasi itu ke waktu sesudah ia mengalami situasi tadi.”[3]

B. Tipe Belajar Menurut Gegne

Robert M. Gagne, secara hirarkis / sistematuk membedakan jenis-jenis belajar, yang disebutnya sebagai “tipe-tipe balajar”, dalam delapan ipe, yaitu:

1. Belajar tipe I, yang disebut sebagai “belajar signal’, atau conditioning ala Paplov. Unsure pokoknya adalah “refleks bersyarat” atau conditioning response. Respon bersayarat terjadi apabila telah terjadi asosiasi (hubungan) antara stimulus dengan stimulus lain (sebagai sinyal bagi stimulus asli tersebut): yang kemudian dengan stimulus lain tersebut menimbulkan reaksi yang sama seperti yang terjadi pada stimulus asal.[4]

2. Belajar dengan peneguh atau penguat (conditioning ala skinner); atau belajar tipe II. Dalam pola belajar ini, dibentuk hubungan antara suatu perangsang dengan suatu reaksi, berdasarkan efek yang mengikuti pemberian reaksi tertentu. Belajar disini berarti belajar membuat suatu gerakan, demi memperoleh suatu yang memberikan kepuasan. Dan gerakan itu melibatkan kejasmanian, oleh karenanya disebut “gerakan motorik” yang dilakukan dengan kehendak sendiri. Misalnya seorang anak kecil belajar untuk memegang botol minuman susu, dan dengan demikian memberikan makan kepada dirinya sendiri, sehingga merasa kenyang.[5]

3. belajar membentuk rangkaian gerak (chaining motorik) atau belajar tipe III. Dalam hal ini, yang dimaksudkan adalah belajar membuat suatu seri gerakan-gerakan motorik, sehingga akhirnya terbentuk suatu rangkaian gerakan dalam urutan tertentu. Pada dasarnya sama dengan belajar tipe II, yaitu dilakukan aktivitas jasmani dengan kehendak sendiri, tetapi rangkaian gerakan jasmani dengan kehendak aktivitas bergerak dan bersifat lebih komfleks. Misalnya, seorang anak belajar membuka pintu depan rumah dari luar, dengan menggunakan sebuah anak kunci, dalam hal ini ada sejumlah gerakan yang harus diperbuat dalam urutan tertentu, yaitu: memgang anak kunci dalam posisi yang tepat, memasukkannya kedalam lubang kunci, memutarnya, menekan pegangan pintu kebawah, mendorong pintu hingga terbuka, dan akhirnya mengambil anak kunci dari lubang kunci.[6]

4. Belajar tip ke IV, disebut juga sebagai belajr “asosiasi verbal”, yaitu belajar dengan menghubungkan suatu kata dengan suatu obyek yang berupa benda, orang atau kejadian, dan merangkaikan sejumlah kata dalam urutan yang tepat. Yang pertama, berarti memberikan suatu nama atau cap verbal pada suatu obyek misalnya “kursi” bagi benda berkaki empat yang mempunyai alas tempat duduk, dan menempatkan badan diats kursi itu sebagai “duduk”, dan sebagainya. Yang kedua, berarti menempatkan sejumlah kata yang satu sesudah yang lain dalam urutan tertentu; misalnya anak menghafal lagu Indonesia Raya. Belajar tipe ini berarti juga memberikan reaksi verbal pada suatu stimulus; misalnya; bahasa inggrisnya meja “table”; nomor rumah: 245; ini gambar apa: “boneka”, dan sebagainya.[7]

5. belajr tip eke V, disebut belajr diskriminasi yang jamak (multiple discrimination); yang diharapkan bias memberikan reaksi yang berbeda pada stimulus-stimulus yang mempunyai kesamaan/kemiripan. Hasil belajar ini ialah kemampuan utnuk membeda-bedakan antarea obyek-obyek yag terdapat dalam lingkungan fisik yang berbeda. Kemampauan ini berdasarkan hasil pengamatan, yaitu fungsi untuk mengenal dunia real, yang menghasilkan persepsi. Dan melalui persepsi inilah dikenal cirri-ciri fisik dari obyek-obyek, misalnya warnanya, bentuknya, ukurannya, dan sebagainya.[8]

6. belajar tip eke VI, adalah belajar konsep (concept learning); kemampuan yang diharapkan dari tipe belajar ini adalah bias menempatkan obyek-obyek dalam kelompok tertentu {klasifikasi} dan bentuk itu diperlukan pembentukan konsep-konsep yang tepat. Konsep adalah suatu satuan arti yang mewakili sejumlah obyek yang mempunyai cirri-ciri sama. Misalnya; manusia, ikan paus, kera, anjing, adalah mahluk menyusui; pensil, spidol, pulpen, ballpoint, adalh alat-alat tulis. Untuk dapat membentuk konsep yang tepat, harus didahului kemampuan mengadakan diskriminasi perceptual.[9]

7. Tipe belajar ke VII, disebut sebagai belajar kaidah (rule learning), yang berusaha menghubungkan beberapa konsep, atau relasi tetap diantara konsep-konsep itu, biasanya dituangkan dalam bentuk suatu kalimat. Misalnya: kalimat “air dimasukkan dlam ruang yang bersuhu kurang dari nol derajat celcius, akan membeku”. Kalimat tersebut mengungkap relasi tetap antara air yang masih berbentuk cairan dengan air yang berbentuk padat, setelah suhu air diturunkan samapai dibawah nol derajat celcius. Dalam hal ini beberapa konsep dihubungkan satu sama lain ampai tebentuk suatu pemahaman baru, yang disebut dengan kaidah.[10]

8. Tipe belajar ke VIII, disebut belajar memeahkan problem (problem solving). Cara belajar ini menghasilkan suatu prinsip yang dapat dipergunakan dalam pemecahan suatu problem. Problem yang dihadapi akan dapat dipecahkan dengan menghubung-hubungkan beberapa kaidah sedemikian rupa, sehingga terbentuk suatu kaidah yang lebih tinggi {higher order rule}, dan ini kerap kali dilahirkan sebagai hasil dari berfikir, bila orang menghadapi suatu problem untuk dipecahkan.[11]

Dalam perkembangannya kemudian sistematika “Delapan Tipe Belajar” diatas kemudian diganti oleh Gagne dengn sistematika lain. Dengan demikian sistematika in tidak aktuallagii, namun tetap mempunyai nilai histories karena didalamnya terkandung dua keyakinan yang tetap dipegang oleh Gagne, yaitu bentuk/jenis belajar berjumlah lebih dari satu saja, dan hasil belajar yang satu menjadi landasan untuk hasil belajar yang lainnya.

C. Sistematika “Lima Jenis Belajar”

Sebagaimana penjelasan yang sudah dipaparkan diatas tadi, sistematika “lima jenis belajr” ini, merupakan bagian yang khusu untukmemperhatikan hasil belajar yang diperoleh. Hasil belajar ini merupakan suatu kemampauan internal (capability) yang telah menjadi milki pribadi sesorang dan memungkinkan orang itu melakukan sesuatu atau memberikan prestasi tertentu (performance). Sistematika ini mencakup semua hasil belajar yang dapat diperoleh; artinya gagne tidak menunjukkan hasil belajar atau kemampuan internal satu persatu, akan tetapi mengelompokkan setiap hasil belajar yang memilki cirri-ciri yang sama dalam satu kategori.

Sistematika “Lima Jenis Belajar” tidak disusun berdasarkan suatu urutan hirarkis, dimana jenis belajar yang satu menjadi landasan bagi jenis belajar yang lainnya. Kelima kategori hasil belajar yang dikemukan oleh Gagne adalah sebagai berikut:

1) Informasi verbal

2) Kemahiran intelektual

3) Pengaturan kegiatan kognitif

4) Keterampilan motorik

5) Sikap

(sistematika menurut R. Gagne)

Belajar di bidang kognitif

– Belajar di bidang sensorik-motorik

– Belajar di bidang dinamik-afektif

(sistematika menurut aspek-aspek kepribadian yanglazim digunakan dalam ilmu psikologi).

1. Informasi verbal (verbal information). Yang dimaksudkan ialah pengetahuan dimiliki seseorang dan dapat diungkapkan dalam bentuk bahasa, lisan dan tertulis. Pengetahuan itu diperoleh dari sumber yang menggunakan bahasa juga, lisan atau tertulis.[12]

Informasi verbal meliputi:

§ Cap verbal : kata yang dimilki seseorang untuk menunjuk pada obyek-obyek yang dihadapi, misalnya kata “kursi” untuk benda tertentu.

§ Data / Fakta : kenyataan yang diketahui, misalnya “Negara indoneia dilalui khatulistiwa”

2. Kemahiran intelektual (intelektual skill). Yang dimaskud ialah kemampuan untuk berhubugan dengan lingkungan hidup dan dirinya sendiri dalam bentuk suatu representasi, khususnya konep dan berbagai lambing / symbol (huruf, angka, kata, gambar). Misalnya, seseorang akan menempuh ujian mengemudi untuk memperoleh Surat Izin Mengemudi A. ujian itu, biasanya, terdiri atas dua bagian, yaitu teori dan praktek. Untuk menempuh ujian bagian praktek, orang itu harus turun ke jalan dan membuktikan kemampuannya membawa kendaraan mobil di tengah-tengah lalu lintas. Namun, untuk menempuh ujian bagian teori, orang itu tidak mutlak perlu duharuskan turun kejalan; cukuplah petugas kepolisisan memperlihatkan sebuah peta atau denah yang menggambarkan suatu situsi lalu lintas tertentu dan mengjaukan berbagai pertanyaan. Dengan demikian, pengetahuan calon pemegang Surat Izin Mengemudi dapat diuji melalui representasi visual dari situasi lalu lintas yang dihadapai di jalan.[13]

Kategori kemahiran intelektual terbagilagi atas epat sub kemampuan yang durutkan secara hirarkis. Adapun empat sub kemampuan adalah sebagai berikut:

a) Diskriminasi jamak (multiple discrimination). Berdasarkan pengamatan yang cermat terhadap obyek, orang mampu membedakan antara obyek yang satu dengan yang lain. Selama mengamati, bentuk berbegai persep, yaitu hasil mental dari pengamatan, yang di dalamnya tanggapan sebagai representasi berperaga mungkin sekali memegang peranan.[14]

b) Konsep (consept). Konsep atau pengertian ialah satuan arti yang mewakili sejumlah obyek yang mempunyai cirri-ciri sama. Orang yang memilki konsep, mampu mengadakan abtraksi terhadap segala obyek yang dihadapi, sehingga obyek ditempatkan dlam golongan tertentu (klasifikasi). Suatu obyek dihadrikan dalam kesadaran orang, dalam bentuk suatu representasi mental tak berperaga. Konsep sendiri pun dapat dilambangkan dalam bentuk suatu kata yang mewakili konsep itu; jadi lambing mental (konsep) dituangkan dalam bentuk suatu kata (lambang bahasa).[15]

c) Kaidah (Rule). Bila dua konsep aau lebih dihubungkan satu sama lain, terbentuk suatu ketentuan yang merepresentasikan suatu keteraturan. Orang yang telah mempelajari suatu kaidah, mampu menghubungkan beberapa konsep. Misalnya seorang anak yang berkata “Benda yang bulat berguling di alas miring”, telah menguasai konsep “benda”, “bulat”, “alas”, “miring”, dan “berguling” dan menentukan adanya uatu relasi tetap antara kelima konsep itu. Seandainya anak iotu tidak menguasai tiga konsep dasar, maka dengan sendirinya, dia juga tidak menguasai kaidah “bend yang berguling”. Maka, memilki kaidah mengndaikan kemampuan menguasai konsep-konsep yang relevan, yang bersama-sama membentuk kaidah itu. Di sini namapak jelas apa yang dimaksud dengan urutan hirarkis, sebagaimana dikatakan oleh Gagne.[16]

d) Prinsip (Highorder rule). Dalam prinsip telah terjadi kombinasi dari beberapa kaidah, sehingga terbentuk suatu kaidah yang bertaraf lebih tinggi dan lebih kompleks. Kaidah semacam itu, disini, disebut “prinsip”. Berdasarkan prinsip yang di pegang, orang mampu memecahkan suatu problem dan kemudian menerapkan prinsip itu pada problem yang sejenis.[17]

3. Pengaturan kegiatan kognitif (cognitive strategy). Kemampuan ini merupakan suatu kemahiran yang berbeda sifat dengan kategori kemahiran intelektual yang dibahas sebelumnya; maka diberi nama tersendiri; supaya tidak dicampuradukkan dengan konsep dan kaidah. Orang yang mempunyai kemampuan ini, dpat menyalurkan dan mengarahkan aktivitas kognitifnya sendiri, khususnya bila sedang belajar dan berfikir. Ruang gerak pengaturan kegiatan kognitif adalah aktivitas mentalnya sendiri, sedangkan ruang gerak kemahiran intelektual ialah representasi dalam kesadaran terhadap lingkungan hidup dan diri sendiri. Pengaturan kegiatan kognitif mencakup penggunaan konsep dan kaidah yang telah dimiliki, terutama bila sedang menghadapi suatu problem. Orang yang mampu mengatur dan mengarahkan aktivitas mentalnya sendiri di bidang kogniti, akan jauh lebih efisien dan efektif dalam mempergunakan semua konsep dan kaidah yang pernah dipelajari, disbanding dengan orang yang tidak berkemampuan demikian. [18]

4. Keterampilan motorik (motor skill). Orang yang memilki suatu keterampilan motorik, maupun melakukan suatu rangkaian gerak-gerik jasmani dalam urutan tertentu, dengan mengadakan koordinasi antara gerak-gerik berbagai anggota badan secara terpadu. Ketrampilan semacam ini disebut “motorik”, karena otot, urat dan persendian terlibat secara langsung, sehingga keterampilan sungguh-sungguh berakar dalam kejasmanian. Cirri khas dari keterampilan motorik ialah otomatisme, yaitu rangkaina gerak-gerik berlangsung secara teratur dan berjalan dengan lancer dan supel, tanpa dibutuhkan banyak refleksi tentang apa yang harus dilakukan dan mengapa diikuti urutan gerak-gerik tertentu. Misalnya seorang sopir mobil sudah menguasai keterampilan mengendarai kendaraannya sedemikian rupa, sehingga konsentrasinya tidak seluruhnya termakan oleh penanganan peralatan mengendarai dan perhatiannya dapat dipusatkan pada arus lalu lintas di jalan.[19]

5. Sikap (attitude). Orang yang bersikap tertentu cenderung menerima atau menolak suatu obyek berdasarkan penilaian terhadap obyek itu, berguna / berharga baginya atau tidak. Bila obyek dinilai “naik untuk saya”, dia mempunyai sikap positif, bila obyek dinilai “jelek untuk saya”, dia mempunyai sikap negative. Misalnya siswa yang memandang belajar disekolah sebagai sesuatu yang sangat bermanfaat baginya, memilki sikap yang positif terhadap elajar di sekolah; dan sebaliknya kalau siswa memandang belajar disekolah sebagai sesuatu yang tidak berguna. “Sikap” dan “nilai” (value) kerap disamakan dmeskipun ada ahli psikologi yang memandang nilai sebagai “sikap social”, yaitu sikap masyarakat luas terhadap esuatu, seperti sikap hormat terhadap bendera nasional dan siakp menolak tindkan korupsi. Orang perorangan dapat mengambil oper sikap social itu dan menjadikannya sikap pribadi, atau menolaknya dan menentukan sikap sendiri.[20]


[1] Tadjab, M.A, “Ilmu Jiwa Pendidikan”, Karya Aditama, Surabaya, 1994, Hal. 46

[2] Ngalim Purwanto, “Psikologi Pendidikan”, Remaja Rosdakarya, Bandung 2004, Hal.85

[3] Ibid, Hal.84

[4] Tadjab, M.A, “Ilmu Jiwa Pendidikan”, Karya Aditama, Surabaya, 1994, Hal. 95

[5] Ibid, Hal, 96

[6] Ibid, hal, 97.

[7] Ibid, hal, 97

[8] Ibid, hal, 98

[9] Ibid, hal, 98

[10] Ibid, hal, 99

[11] Ibid, hal, 99

[12] Wingkel, W.S, “Psikologi Pengajaran”, Media Abadi,Yogyakarta, 2007, Hal. 111

[13] Ibid, Hal. 112

[14] Ibid, Hal. 112

[15] Konsep dibagi menjadi dua; konsep konkrit dan konsep yang didefinisikan. Konsep konkrit adalah pengertian yang menunjukkan pada aneka obyek dalam lingkungan fisik. Sedangkan konsep yang didefinisikan adalah konsep yang mewakili realitas hidup, tetapi tidak langsung menunjuk pada realitas dalam lingkungan hidup fisik, karena realitas itu tidak berbadan. Ibid, Hal. 113

[16] Ibid, Hal. 114

[17] Ibid, Hal. 115

[18] Berbagai siasat untuk mengatur kegiatan berpikir dan kegiatan belajar sendiri oleh Gagne disebut “cognitive strategy”. Ibid, Hal. 115

[19] Ibid, Hal. 117

[20] Ibid, Hal. 117-118

MENUMBUHKAN MOTIVASI BELAJAR

Pengertian Motivasi

Motivasi adalah dorongan untuk mencapai tujuan tertentu. Dorongan itu bisa saja berbentuk: antusiasme, harapan dan semangat. Semua yang kita lakukan setiap hari senantiasa dibayangi oleh adanya motivasi. Misalnya, seorang karyawan yang bekerja tentu saja memiliki motivasi bekerja, begitu pula seorang atlet memiliki motivasi bertanding, seorang pelajar dengan motivasi belajar, dan lain sebagainya.

Motivasi ialah suatu proses untuk menggalakkan sesuatu tingkah laku supaya dapat mencapai matlumat-matlumat yang tertentu. Konsep motivasi memang susah difahami kerana kesannya tidak dapat diketahui secara langsung. Seseorang guru terpaksa melibatkan proses pelbagai motif kelakuan seseorang yang diukur dari segi perubahan, keinginan, keperluan dan matlamatnya.

Motivasi adalah fenomena kejiwaan yang mendorong seseorang untuk bertingkah laku demi mencapai sesuatu yang diinginkan atau yang dituntut oleh lingkungannya. Motivasi dapat bersumber dari fungsi kognitif dan fungsi afektif. Motif Kognitif lebih menekankan pada kebutuhan manusia akan informasi dan untuk mencapai tujuan tertentu. Motif ini mendorong manusia untuk belajar dan ingin mengetahui.

Motif Afektif lebih menekankan aspek perasaan dan kebutuhan individu untuk mencapai tingkat emosional tertentu. Motif ini akan mendorong manusia untuk mencari dan mencapai kesenangan dan kepuasan baik fisik, psikis dan sosial dalam kehidupannya dan individu akan menghayatinya secara subyektif. Pada lanjut usia, motivasi baik kognitif maupun afektif untuk mencapai/memperoleh sesuatu cukup besar, namun motivasi tersebut seringkali kurang memperoleh dukungan kekuatan fisik maupun psikologis, sehingga hal-hal diinginkan banyak berhenti di tengah jalan.

Motivasi adalah karakteristik psikologi manusia yang memberi kontribusi pada tingkat komitmen seseorang. Hal ini termasuk faktor-faktor yang menyebabkan, menyalurkan dan mempertahankan tingkah laku manusia dalam arah tekad tertentu. (Stoner& Freeman, 1995:134) Motivasi menurut Ngalim Purwanto (2000:60) adalah bahwa motivasi adalah segala sesuatu yang mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu. Motivasi adalah perasaan atau pikiran yang mendorong seseorang melakukan pekerjaan atau menjalankan kekuasaan terutama dalam berperilaku (Sbortell & Kaluzny, 1994:59)

Menurut McDonald, motivasi adalah suatu perubahan energi di dalam pribadi seseorang yang ditandai dengan timbulnya afektif dan reaksi untuk mencapai tujuan.

Perumusan ini mengandung tiga unsure yang saling berkaitan sebagai berikut :

a. Motivasi dimulai dari adanya perubahan energi dalam pribadi

b.Motivasi ditandai dengan timbulnya perasaan (affective arousal)

c. Motivasi ditandai oleh reaksi-reaksi untuk mencapai tujuan.

Dari berbagai macam definisi motivasi, Stanford (1970), ada tiga point penting dalam pengertian motivasi yaitu hubungan antara kebutuhan, dorongan dan tujuan. Kebutuhan muncul karena adanya sesuatu yang kurang dirasakan oleh seseorang, baik fisologis maupun psikologis. Dorongan merupakan arahan untuk memenuhi kebutuhan tadi, sedangkan tujuan adalah akhir dari satu siklus motivasi (Luthans, 1988:184).

Suatu prinsip dalam tingkah laku ialah bahwa individu selalu mengambil jalan terpendek menuju suatu tujuan. Orang dewasa mungkin berpandangan di dalam kelas para siswa harus mengabdikan dirinya kepada penguasaan kurikulum. Akan tetapi, para siswa tidak selalu melihat tugas-tugas sekolah sebagai jalan terbaik yang menuju kearah kebebasan, produktovotas, kedewasaan, atau apa saja yang dipandang mereka sebagai perkembangan yang disukai. Dalam hubungan ini tugas guru adalah menolong mereka memilih topic, kegiatan atau tujuan yang bermanfaat, baik untuk jangka panjang maupun untuk jangka pendek.

Pengaruh Motif

Untuk memahami motif manusia perlu kiranya ada penilaian terhadap keinginan dasar yang ada pada semua semua perkembangan manusia yang normal. Sebagai bantuan terhadap proses perkembangan sejak lahir dan seterusnya, tingkah laku manusia itu dipengaruhi oleh sekumpulan keinginan dan cita-cita yang potensial yang bekerja sebagai daya pendorong dan penggerak dalam kegiatan hidupnya.

Dorongan tingkah laku yang relative sederhana pada permulaan masa kanak-kanak akan bertambah banyak dan komplek bilaman individu telah dewasa dan mengalami pergaulan hidup yang lebih luas dan berbeda. Pada umumnya sebagai hasil pendidikan, seseorang terdorong untuk memnuhi kebutuhan cita-citanya, ataupun mencapai kepuasan pribadi dalam kegiatan yang diinginkan oleh masyarakat.

Ada beberapa pengaruh motif yang menjadi factor kuat dalam belajar, diantaranya:

a. Motif mendorong si pelajar dalam kegiatan-kegiatan belajarnya. Motif disini banyak mendorong anak untuk menguasai berbagai bahan pelajaran.

b. Motif bertindak sebagai penyaring (selector) jenis kegiatan yang diikuti dan dilakukan orang. Misalnya surat kabar akan berbeda-beda artinya bagi setiap orang.

c. Motif mengarahkan tingkah laku. Artinya jika pengarah dalam proses belajar. Si pelajar harus dibantu agar mau belajar apa yang mau dipelajari dan untuk mengetahui makna kegiatan belajarnya.

Guru merupakan penggerak kegiatan belajar para siswanya. Ia harus menyusun suatu rencana tentang cara-cara melakukan tindakan serta mengumpulkan bahan-bahan yang dapat membangkitkan serta menolong para siswa agar mereka terus melakukan usaha-usaha yang efektif untuk mencapai tujuan-tujuan belajar.

Guru seringkali menggunakan insentif untuk memberi motivasi pada siswa u8ntuk mencapai tujuan pengajaran. Insentif akan bermanfaat jika mengandung tujuan yang akan memberikan kepuasan terhadap kebutuhan psikologis anak. Itu sebabnya guru harus kreatif dan imajinatif dalam menyediakan insentif yang tepat.

Ada dua faktor yang menjadi tenaga penggerak bagi para siswa dalam belajar yaitu motivasi ekstrinsik, yakni motivasi yang berasal dari luar diri siswa dan motivasi instrinsik yang berasal dari dalam diri siswa itu sendiri. Motivasi ekstrinsik ini sengaja diciptakan oleh lingkungan di luar anak, bisa oleh guru, orang tua atau pemerintah. Berbeda dengan motivasi intrinsik yang menekankan kepada bentuk motivasi yang di dalamnya aktivitas belajar dimulai dan diteruskan berdasarkan suatu dorongan yang secara mutlak berkaitan dengan aktivitas belajar

Salah satu contoh dalam menumbuhkan motivasi metode reward dan punishment seringkali digunakan oleh para guru ataupu orang tau, yang harus diperhatikan bahwa metode pemberian hadiah dan hukuman hanyalah merupakan perantara, untuk menuju metode pendidikan yang lebih baik, yaitu menumbuhkan motivasi intrinsic. Jika seorang anak mampu memunculkan motivasi intrinsic ini, maka akan memilki kemampuan untuk mengelola dan mengatur dirinya sehingga tidak tergantung dorongan dan bantuan orang lain.

Fungsi motivasi dari uraian diatas menunjukkan bahwa motivasi mendorong timbulnya perilaku dan mempengaruhi serta mengubah perilaku. Jadi fungsi motivasi ialah :

1. Mendorong timbulnya perilaku atau suatu perbuatan. Tanpa motivasi tidak akan timbul perbuatan seperti belajar.

2. Sebagai pengarah, artinya mengarahkan perbuatan kepada pencapaian tujuan yang diinginkan.

3. Sebagai penggerak. Ia berfungsi sebagai mesin bagi mobil. Besar kecilnya motivasi akan menentukan cepat atau lambatnya suatu pekerjaan.

Membangkitkan Motivasi Belajar Anak

Ada dua cara yang dapat dipakai untuk membangkitkan motivasi belajar anak didik. Pertama, guru ikut terlibat dalam kehidupan anak didik. Salah satu bukti guru mengasihi anak didik adalah dengan melibatkan dirinya dalam kehidupan mereka. Kerelaan dan ketulusan guru untuk melayani mereka secara pribadi juga akan mendorong untuk memberikan waktu bagi anak didiknya dan mendengarkan keluh kesah mereka. Ia akan berusaha memahami permasalahan yang dihadapi termasuk juga melakukan kunjungan pribadi. Perbuatan kasih yang demikian akan dirasakan oleh anak didik. Mereka akan mampu membedakan mana perbuatan gurunya yang dilandasi kasih dan mana yang dilakukan dengan kepura-puraan. Dengan tindakan ini, guru sudah berhasil merebut hati anak didiknya sehingga memudahkannya untuk menanamkan motivasi kepada mereka.

Cara kedua menyangkut sikap guru di dalam kelas. Upaya seorang guru untuk membangun motivasi yang baik bagi anak didiknya di luar kelas akan rusak jikalau sikapnya di hadapan mereka salah. Mungkin ia memang mengasihi mereka dengan sungguh-sungguh. Namun, sebagian besar pemberian motivasi bergantung pada hubungan guru dengan murid dalam suasana belajar di dalam kelas.

Menurut Richards, penunjang lain untuk membangkitkan motivasi anak didik adalah sebagai berikut :

1. Guru harus mengetahui bahwa orang dapat belajar dengan baik sekali apabila pelajarannya disusun menurut pola tertentu sehingga anak didik mengetahui apa yang menjadi sasaran pelajarannya. Mereka pun dapat melihat kemajuan-kemajuan yang harus diperoleh untuk mencapai sasaran itu.

2. Orang dapat belajar dengan baik sekali apabila mereka dapat melihat hubungan antara pelajaran itu dan dirinya sendiri.

3. Orang dapat belajar dengan baik sekali jikalau merasa dapat menguasai isi pelajarannya.

4. Orang dapat belajar lebih baik jikalau melihat manfaatnya dalam kehidupan mereka.

Untuk menjadi seorang motivator, seorang guru juga tidak terlepas dari perannya sebagai pengelola kelas. Dia harus memikirkan dan merancang kegiatan di dalam kelas supaya menarik perhatian dan merangsang anak didiknya untuk belajar. Untuk itu pula guru harus melihat diri dan anak didiknya sebagai tim dalam belajar juga sebagai teman sekerja dalam belajar.

Strategi utama dalam membangkitkan motivasi belajar pada dasarnya terletak pada guru atau pengajar itu sendiri. Menurut McKeachie (1986), kemampuan guru menjadikan dirinya model yang mampu membangkitkan rasa ingin tahu dan kesanggupan dalam diri peserta didik merupakan aset utama dalam membangkitkan motivasi.

Selain itu orang tua juga memilki peran yang sangt penting bagi tumbuhnya motivasi anak-anak mereka. Sebagai catatan banyak sekali orang tua yang berusaha membangkitkan motivasi anak dengan memberikan hadiah dan menjadikannya sebagai patokan. Menurut Basti, dari sejumlah penelitian menyebutkan bahwa pemberian hadiah memang berpengaruh pada peningkatan prestasi anak dalam belajar. Namun ia memberikan catatan agar orangtua jangan menjadikan hadiah sebagai patokan utama untuk meningkatkan motivasi sebab bisa berdampak negatif dalam pola pikir dan sikap anak. Hadiah ini bisa menjadikan anak lebih malas. “Pemberian hadiah memang dapat dilakukan oleh orangtua terhadap anak, tapi jangan menjadikan hadiah sebagai hal utama,” jelasnya.

Untuk menambah agar anak lebih termotivasi belajar maka orangtua harus senantiasa meluangkan waktu walau semenit untuk menemani anak belajar. Orangtua juga harus memberikan kesempatan pada anak untuk bisa mengenal lingkungannya dan memberikan waktu bersosialisasi kepada teman-teman.

Orangtua juga harus memahami kondisi psikologis anak. Saat anak tidak ingin belajar maka berikanlah kesempatan untuk bermain. Jangan menjadi orangtua yang memiliki sikap otoriter, memaksakan keinginan agar anak mendapatkan prestasi di sekolah dengan memberikan les privat. “Hindarkan menjadi orangtua yang otoriter. Dimana seluruh keinginan Anda harus dilaksanakan oleh anak. Ini akan berdampak kejenuhan dalam diri anak” .

DAFTAR PUSTAKA

Irawati istiadi. Agar Hadiah Dan Hukuman Efektif. Pustaka Inti. Jakarta, 2005.

Mustaqiem, Drs. Abdul Wahib, Drs. Psikologi Pendidikan. Rieneka Cipta. Jakarta, 1991.

L. Crow and A. Crow. Psychology Pendidikan. Abd. Rahman Abror. Nur Cahaya. Yogyakarta, 1989.

Oemar Hamanik. Psikologi Belajar Dan Mengajar. Sinar Baru Algensindo

http://www.sinarharapan.co.id/ekonomi/mandiri/2003/0415/man01.html

http://www.e-psikologi.com/usia/130502.htm

http://pepak.sabda.org/e-binaanak/281/

http://www.sinarharapan.co.id/ekonomi/mandiri/2002/01/4/man01.html

http://www.fajar.co.id/news.php?newsid=21963

http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/2006/062006/20/99forumguru.htm

Apa Itu Motivasi?

Motitif bersal dari bahasa latin movere yang berarti bergerak atai to move. Mitif adalah dorongan yang datang dari dalam diri sendiri. Motif bisa diartikan sebagai kekuatan yang terdapat dalam diri organisme yang mendorong untuk berbuat atau merupakan driving force.

Motif adalah sebagai pendorongpada umumnya tidak terdidri sendiri, tetapi saling kait mengait dengan faktor-faktor lain, hal-hal yang dapat mempengaruhi motif sebagai motivasi.

Kalau seseorang ingin mengetahui mengapa orang berbuat atau berprilaku kearah sesuatu  seperti yang dikerjakan, maka orang tersebut akan terkait dengan motivasi atau perilaku yang termotivasi (motivated behavior). Motivasi merupakan keadaan dalam diri individu atau organisme yang mendorong perilaku kearah tujuan motivasi dapat ditemukan tiaga aspek yaitu:

  1. keadaan terdorong dalam diri organisme (a driving state) yaitu kesiapan bergaerakkarena kebutuhan misalanya kebutuhan jasmani, karena keadaan lingkungan, atau karena keadaan mental seperti berfikir dan ingatan.
  2. perilaku yang timbul dan terarah karena keadaan ini.
  3. goal atau tujuan yang dituju oleh perilaku tersebut.

Bahwa motivasi mempnuayi fungsi sebagai perantara pada organisme atau manusia untuk menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Suatu perbuatan dimulai dengan adanya ketidak seimbangan dalam diri individu, misalnya lapar atau takut. Keadaan tidak seimbang ini tidak menyenangkan bagi individu yang bersangkutan, sehingga timbul kebutuhan untuk meniadakan ketidaksimbangan itu. Misal mencari makanan atau mencari perlindungan. Kebutuhan inilah yang akan menimbulkan dorongan atau motif untuk berbuat sesuatu. Setelah melakukan perbuatan itu maka tercapailah keadaan seimbang dalam diri individu dan timbul perasaan puas, gembira, aman, dan sebagainya. Kecenderungan untuk mengusahakan keseimbangan dari ketidakseimbangan terdapat dalam dirti tiap oraganisme atau manusia dan ini disebut prinsip homeostatis.

Keadaan keseimbangan tidak berlangsung selama lamanya, karena setelah beberapa saat akan timbul ketidakseimbangan baru yang menyebabkan seluruh proses motivasi diatas diulangi. Karena itu, kita lihat disini, bahwa sebenarnya proses motivasi merupakan sesuatu lingkaran takterputus yang disebut lingkaran motivasi.

Motivasi sebagai inferensi, eksplanasi dan perediksi

Bahwa motif ini tidak dapat diamati secara langsung. Tetapi motif dapat dapat diketahui atau tyerifensi dari perilaku, yaitu apa yang dikatakan dan apa yang dibuat oleh seseorang. Dari hal tersebut dapat diketahui tentang motifnya. Misalnya seorang sesalu bekaerja dengan giat pada setiap tugas yang dikerjakannya untuk mencapai hasil yang baik. Dari keadaan ini dapat ditarik pendapat bahwa yang bersangkutan didorong oleh achivement motivasion yang tinggi. Dengan kesimpulan tersebut orang mempunyai alat yang baik untuk mengadakan eksplanasi mengenai prilaku. Sebagian besar perilaku diwarnai oleh adanya motivasi tertentu. Misalnya mengapa orang pergi kuliah? Jawabannya akan berkaitan dengan motivasi seperti ingin belajar, ingin mendapat pendidikan yang lebih tinggi, ingin mengangkat martabat kedua orang tua, agar mudah mendapat pekerjaan, dan sebagainya. Pada umumnya ingin kuliah ini terdorong dari beberapa motif tersebut.

Motif juga  membantu seseorang untuk mengadakan prediksi tentang perilaku. Apabila orang dapat menyimpilkan motif dari perilaku seseorang dan kesimpulan tersebut benar, maka orang dapat memprediksi tentang apa yang akan dibuat oleh orang yang bersangkutan dalam waktu yang akan datang misal. Orang yang mempunyai motif berafiliasi yang tinggi, mqaka ia akan mencari orang-orang untuk berteman dalam banyak kesempatan. Jadi serkalipun motif tidak menjelaskan secara pasti apa yang akan terjadi, tetapi dapat memberikan ide tentang apa yang sekiranya akan diperbuat oleh seworang individu. Misalnya orang yang akan butuh prestasi, maka ia akan bekarja secara keras, secara baik dalam belajar, bekerja ataupun dalam aktivitas-aktivitas yang lain.

Lingkaran Motivasi

Motivasi mempunyai sifat siklas (melingkar) yaitu motivasi timbul, memicu perilaku tertuju kepada tujuan (goal) dan akhirnya setelah tujaun tercapai motivasi itu terhenti. Tetapi itu akan kembali keadaan semula apabila ada sesuatu kevbutuhan lagi. Siklus tersebut dapat digambarkan sebagai berikut:

Tahap pertama timbulnya keadaan pemicu (driving state) intilah dorongan atau pemicu biasanya digunakan bila motif yang timbul itu berdasarkan kebutuhan biologisatau fisiologis. Drive timbul dapat karena organisme itu merasa ada kekurangan dalam kebutuhan misal, orang kurang tidur, maka ia butuh tidur dan kebutuhan ini mendorong untuk tidur. Drive juga bisa timbul karena pengaruh stimulus luar.

Kebutuhan akan prestasi merupakan salah satu motif sosial yang dipelajari secara mendetail dan hal ini dapat diikuti sampai pada waktu ini. Orang yang mempunyai kebutuhan akan meningkatkan performance. Sehingga dengan demikian akan terlihat tentang kemampuan berprestasinya. Untuk mengungkap kebutuhan akan prestasi ini dapat diungkap dengan teknik proyeksi.

Ungkap para peneliti bahwa orang yang mempunyai n-achievenment tinggi akan mempunyai performent yang lebih baik apabila dibandingkan dengan orang yang mempunyai n-achivement yang raendah.

Kesimpulan

Motivasi menjadi salah  satu faktor yang turut menentukan belajar yang efektif dan menentukan hasil  belajar yang lebih baik. Motivasi tidak dapat diabaikan di dalam kegiatan belajar mengajar, karena tanpa adanya motivasi suatu kegiatan belajar mengajar kurang berhasil. Sebagai salah satu kemungkinan yang dapat dilakukan oleh guru adalah dengan memberi rangsangan atau dorongan kepada siswa. Motivasi yang diberikan oleh guru merupakan faktor yang dapat menumbuhkan semangat siswa dalam mencapai tujuan belajarnya.

DAFTAR PUSTAKA

Syah, Muhibbin. Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya. 2005.

http://digilib.upi.edu/

http://www.e-psikologi.com/

http://www.jogjabelajar.org/

DI DINDING FACEBOOK 4

Ketika perasaan mulai menjerit akibat ketidakjujuran
sekongyong-konyong datang keraguan dalam hati ini
ketika dia mempertanyakan akan kepastian itu

Di dinding facebook
ku teriakkan setiap jeritan rasa
yang menyelubungi hati ini
dihadapanmu wahai penguasa dinding maya

Di dinding facebook
aku tak peduli mereka merasa apa
yang aku ingin hanya kejujuran itu
tetap melekat di dasar hati kita

Tanpa harus menenggelamkan perasaan kita ke dalamnya.

(Pare, 02 Januari 2010)